B Word

Band Wali

Band Wali

Sabtu (6/12) kemaren aku pulang ber-weekend ke Borobudur. Dan karena aku naik bus ekonomi, sudah pasti rombongan pengamen akan bermunculan satu demi satu masuk bus. Total ada lima penampil, dan semuanya kukasih recehan. Hanya satu yang enggak, yaitu yang muncul terakhir pas bus mau masuk Terminal Soekarno-Hatta, Magelang.

 

 

Pengamen satu itu membawakan singel hit terbarunya Wali, yang mengandung “B word” (ba***gan), yang aku nggak perlu hapal judulnya, dan videoklipnya di TV udah disensor gara-gara disemprit KPI. Aku nggak ngasih recehan karena lahir batin bener-bener nggak suka lagu itu.

Pertama, siapapun yang berakal sehat dan sedang nggak berkonsultasi ke psikiater pasti gerah mendengar “B word” itu diteriakkan bebas di mana-mana. Kedua, nggak ada nilai plus apapun baik dari harmonisasi, progresi akord, dan aransemen musiknya maupun isi pesan yang terkandung lewat liriknya. Dan ketiga, “B word” itu muncul dari band yang menamakan diri Wali?

Ngerti nggak sih artinya wali? Pernah dengar belum frase “Wali Sanga” alias sembilan wali?

(Ini bener The Dark Age of musik Indonesia. Sama aja ada band yang dinamai Asbak, waktu ditanya kenapa namanya asbak, jawabannya “karena asbak ada di mana-mana”. Well, so does WC Umum!)

Mendengar lagu terjelek di dunia itu aku jadi ingat kalimat awal Ebert saat meresensi Godzilla-nya Roland Emmerich. Dia menulis, menonton Godzilla pada Festival Cannes seperti menyaksikan ritual penyembahan setan di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Kegiatan yang berlangsung adalah perlawanan langsung dan kebalikan telak dari napas yang diemban bangunannya.

Hal yang sama terjadi ketika masyarakat umum mendengar “B word” keluar dari sebuah band yang bernama Wali. Sama kalau misalnya Antasari Azhar ditangkap gara-gara korupsi, atau Bambang Hendarso Danuri digerebek karena berjudi!

Dan ketika seorang atau sekelompok seniman mencoba menggapai popularitas lewat sensasi, terutama yang berbau profanity seperti itu, indikasinya memang dia (atau mereka) sama sekali sebenernya nggak punya apa-apa yang patut dan layak ditampilkan.

Susahnya, seni adalah sesuatu yang nggak mungkin bisa diatur dan diarah-arahkan oleh aparat—baik pemerintah maupun keagamaan. Masa menteri pariwisata seni budaya hendak mengeluarkan Dekrit Larangan Band Membikin Lagu-lagu Nggak Mutu. Ntar jadi sama lucu dengan saat Menpen Harmoko dua dekade lalu melarang Obbie Messakh dan Pance Pondaag mencipta lagu-lagu cengeng!

Semua harus terpulang pada kreativitas, daya inovasi, dan keberanian para seniman sendiri (plus pemodal yang berdiri di balik mereka). Dan jelas, saat ini, dari segi itu, seniman-seniman musik populer kita tengah kena malaise yang gawat.

Hmm.. jadi merindukan masa-masa itu… 20 tahun lalu… saat ABG sepertiku menyimak musik-musik “rumit” fusion-jazz, jazz-rock, jazz instrumental yang kompleks dari Karimata, Krakatau, Black Fantasy, Spirit Band, DAC Band, Indra Lesmana, Januari Christy, Embong Rahardjo, etc etc sebagai makanan sehari-hari musik Top 40…

 

Foto courtesy of kapanlagi

The New Adventures of Kantinbanget

Kbblogku Beberapa kali dalam sebulan, aku ikut ambil bagian dalam suatu acara yang dinamai Kantin Banget Talking about… (nama resminya emang pakai tanda elipsis). Sekadar info buat yang tinggal di luar Semarang or Jawa Tengah, KBTa adalah acara offprint dari halaman remaja Edisi Minggu Harian Suara Merdeka, Semarang.

Rubrik remajanya sendiri ada dua halaman, yaitu di hal 20 dan 21. Isinya puisi, artikel pop, kuis, konsultasi psikologi, surat dari seberang, dan juga cerbung (kebetulan yang saat ini lagi dimuat adalah cerbungku yang berjudul Wayang Cinta). Nah, materi yang paling menarik dari dua halaman itu adalah Kantin Banget.

Ini merupakan rubrik komunikasi bebas untuk pembaca. Bentuknya mirip surat pembaca tapi formatnya jauh lebih lepas, karena di situ pembaca boleh bikin surat dalam bentuk apapun, untuk siapapun, dan dengan topik apapun. Mereka bisa ngasih saran, usul, dan kritik buat redaksi; bisa kirim-kiriman salam; bisa nembak gebetan; bisa ngajak reuni teman lama; dan bisa pula nyari sobat masa lalu yang hilang.

Selain memfasilitasi hasrat berkirim salam para reader, “penunggu” kedua halaman itu yang beridentitas sebagai Mas Budi Maryono atau biasa dikenal dengan codename Om Daktur, juga membuka kegiatan offprint berupa KBTa itu tadi. KBTa menerima request dari sekolah-sekolah yang ingin disatroni para personel Kantin Banget guna ngadain acara pelatihan jurnalistik, workshop kepenulisan, atau sekadar makan duren bareng (!).

Kayak band, KBTa punya manajer. Namanya Mas Prio Santosa. Dialah yang menampung semua request itu (biasanya liwat telepon, tapi ada juga yang ngirim surat resmi plus proposal), dan lantas menentukan tanggal-tanggal serta lokasi tujuan keberangkatan tim KBTa. Kalau pas nggak ikut turun bertanding, Mas Prio akan memandu via telepon dari kantor redaksi SM menuju lokasi sekolah tujuan kalau kami kesasar (dan biasanya memang selalu iya!).

Tim yang pergi sebenarnya cuman terdiri atas dua orang tok, yaitu Om Daktur sendiri dan pembicara utama yang dihadirkan. Narasumber bergonta-ganti tergantung topik apa yang lagi di-“talking about”-kan.

Kalau pas talking about how to ngirim cerpen, maka yang diajak adalah cerpenis jago macam Sulistiyo Suparno dari Batang. Pas talking about hunting berita, maka yang dijadiin lakon adalah wartawan paten kayak Unik Dian Mumpuni (Tabloid Cempaka Minggu Ini). Giliran talking about how to write novel, yang disodorin adalah novelis seperti Anita (Bravo! Jins Belel, Au Revoir Jins Belel!) atau aku sendiri.

Tapi pada perkembangannya, banyak mantan napi, eh… narasumber yang akhirnya keterusan ngikut terus buat rame-rame di jalan. Unik ikut di setiap ekspedisi karena dia bertugas bikin liputannya. Anita dan aku juga terus-terusan kelihatan, terutama kalau tujuannya di sekitar Magelang-Temanggung-Purworejo, karena harus makan duren (opo hubungane!?).

Aku sendiri mulai ikut sejak Desember 2005 pas aku dijadiin narasumber soal penulisan novel di SMA 3 Salatiga. Sejak itu aku tak pernah absen meski bukan aku yang jadi narasumber. Lucunya, kalau pas beneran nggak ada narasumber yang bisa diajak, yang cabut cuman bertiga tok: Om Daktur, Unik, dan aku.

Tugas Unik udah jelas, yaitu bikin foto-foto dan liputan. Nah, job sebagai MC dan narasumber tinggal dibolak-balik antara Om Daktur dan aku. Kalau dia yang ngocol, aku yang bawain acara sebagai presenter. Giliran aku yang disuruh jadi talker (maxute, pembicara!), kerjaan sebagai MC dia yang pegang.

Sejak diadin pertama kali pertengahan 2005 lalu, KBTa udah mengunjungi banyak sekolah di seputaran Jawa Tengah, seperti Salatiga, Magelang, Temanggung, Batang, Pekalongan, Kendal, Solo, Blora, atau Semarang sendiri. Tujuan kami umumnya adalah SMA dan Madrasah Aliyah, tapi kadang ada juga request dari sindikat-sindikat nonsekolah, seperti kelompok teater, komunitas sastra, atau gerombolan pemakan duren (eh, itu kita sendiri ding!).

Tentu ada banyak pengalaman menarik selama jalan bareng KBTa, tapi satu yang paling berkesan terjadi hari Sabtu 23 Desember 2006 kemaren saat kami berkunjung ke SMP & SMA-LB YPPALB Magelang. Yap, bener, Sekolah Luar Biasa. Jadi audiens kami di sana adalah anak-anak SMP dan SMA penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Selain Om Daktur, Unik, dan aku, yang ikut ke sana adalah Mas Heru Emka (penulis freelance legendaris), Sulistiyo Suparno, Mas Prio, dan Ismun Faidah alias Vie’s (penyair dan cerpenis asal Batang—koncone Sulis).

Kendala utama acara KBTa di sana tentu soal komunikasi. Kami awam banget soal penggunaan bahasa isyarat, sementara nggak kayak di film-film Hollywood, skill membaca perkataan lewat gerak bibir ternyata belum dipunyai semua penyandang tuna rungu dan tuna wicara. So, pembicaraan pun harus diterjemahkan dengan kode SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) oleh Pak Budi, guru mereka.

Suasana jadi haru biru nggak keruan manakala mereka juga yang bertugas jadi MC, pembaca ayat-ayat suci Alquran, plus pidato ketua panitia. Bisa dibayangin kata-kata kayak apa yang keluar dari anak-anak yang seumur hidup nggak pernah mendengar apa itu kata-kata.

Karena mereka juga nggak bisa mendengar dan mengontrol vokal mereka sendiri, yang terbaik yang bisa mereka lakukan hanyalah mencoba mengira-ira sepas mungkin apa yang mereka baca. Yang terdengar kuping orang normal pun mirip setiap patah kata aktris bisu-tuli cantik, Marlee Matlin. Nggak jelas dan kadang nggak nyenggol sedikitpun. Meski begitu, ada juga yang pelafalannya luar biasa bagus dan tajam, seperti Erna sang ketupat yang membacakan pidato selamat datang.

Apa yang paling menggugahku dari momen itu adalah semangat mereka—semangat dalam berusaha agar mereka bisa sama dan sejajar dengan orang-orang normal yang nggak punya kelainan fisik. Meski kelihatannya sepele, yaitu hanya berusaha ngomong, tapi itu bener-bener perjuangan yang masuk kategori “sampai titik darah penghabisan” bagi mereka.

Mereka melompati kekurangan abadi mereka sendiri untuk menuju teritori (yang juga abadi) yang mereka tak pernah tahu dan bahkan tak pernah mereka kenal. Bagiku itu luar biasa, karena selama ini kita (yang dianggap normal ini) tak pernah pergi sejauh itu saat memperjuangkan sesuatu. Kita paling banter hanya (mencoba) melawan atau meminimalisir kekurangan kita sendiri, tapi tak pernah berani melompatinya.

Maksudku, kalau badan kita gampang capek dan nggak kuat dipakai jalan terlalu jauh, apakah kita akan mendaki Gunung Semeru hanya untuk tahu how far we can go? Kalau kita penakut terhadap lelembut, apakah kita akan nekat nongkrong di kuburan pada malem Jumat Kliwon, sekali lagi, hanya untuk mengetahui berapa lama kita bisa bertahan di sana?

Kita nggak pernah berani melakukan sejauh itu. Kita hanya berani mengerjakan segala sesuatu hanya kalau kita udah punya modal dulu. Kalau nggak, well, kita juga nggak akan ke mana-mana atau ngapa-ngapain. So, dalam hal ini, dibandingkan dengan Erna dkk, kitalah yang tahu-tahu jadi orang cacat… mentally.

Kami Sudah Berusaha…

Sejak Januari 2006, aku mulai menulis resensi film di Edisi Minggu Harian Suara Merdeka, Semarang. Film-film yang kuresensi khusus film Indonesia tok. Film asing, especially Hollywood, juga kutulis, tapi hanya dibahas dari segi kekhasan tematiknya aja, dan nggak kuungkap soal pencapaian kualitasnya.

Sejak saat itu, dimulai dari film 9 Naga besutan Rudi Soedjarwo, tiap film Indonesia pasti kuresensi. Dan gara-gara kerjaan baru ini, belakangan aku ngeh bahwa distributor film kita pasti selalu memilih hari Kamis sebagai hari premiere. Nggak tahu pertimbangannya apa, tapi semua film lokal pasti dirilis hari Kamis.

Setelah 9 Naga, film-film yang kuulas adalah D*Girlz Begins, Heart, Ekskul, Lentera Merah, Cewe Matrepolis, Gotcha!, Mendadak Dangdut, dan I Love You, Om. Yang nggak kuulas adalah Rantai Bumi dan Dunia Lain: The Movie. Berikutnya, sudah menunggu beberapa film yang siap “tayang”, kayak Pocong, 6:30, dan Bangku Kosong.

Lain dari pengulas film di Amerika, Eropa, atau Jakarta, aku nggak menyaksikan film yang akan kutulis dalam pemutaran preview prarilis atau screening (pemutaran khusus sebelum editing final). Aku nonton biasa di bioskop 21 (Citra atau E-Plaza) dengan anak-anak Kejar Siong, bareng Asri (http://daysofagirl.blogspot.com), atau dengan editor EMSM, Mas Budi Maryono (http://siluetbulanluka.blogspot.com).

Setelah dimuat di SM, tiap resensi yang kubikin lantas kupasang di blog-ku Layar Tancep (http://wiwienmovies.blogspot.com) agar bisa memasyarakat dan mendunia seperti situs Sinema Indonesia (www.sinema-indonesia.com). Dan seperti yang bisa Anda lihat sendiri bila suatu saat berkunjung ke Layar Tancep, semua resensiku pasti penuh aroma “thumbs down” (pinjem istilahnya Roger Ebert) dengan kata-kata serta kalimat yang sinis tapi lucu dan lucu tapi sinis.

Mengapa begitu? Ya karena film-film itu luar biasa jelek. Sejak dari 9 Naga hingga I Love You, Om…, semua selalu penuh “lubang” di mana-mana yang membuatnya nggak nyaman ditonton. Kalau aku dosen dan para sutradara itu adalah para mahasiswaku, hasil karya mereka hanya kukasih nilai D dan E (bahkan F untuk D*Girlz Begins!).

Di luar rencana, resensi-resensiku ternyata memulai sebuah “tren” baru di kalangan warga Semarang dan sekitarnya. Para pembaca SM yang baca resensiku pada hari Minggu mendadak ilfeel dan kehilangan minat untuk nonton. Yang nggak ilfeel adalah mereka-mereka yang nontonnya pada hari Kamis (bareng aku), Jumat, dan Sabtu. Tapi yang berencana baru akan nonton hari Senin atau Selasa-nya, kebanyakan bakal membatalkan acara nonton atau mengganti nonton film lain setelah baca tulisanku yang sinis tapi lucu dan lucu tapi sinis itu tadi!

Melihat fenomena itu, teman-temanku lantas pada punya hipotesis yang amat mencengangkan. Bagaimana jika tulisan-tulisanku berkaitan dengan pendeknya masa putar film-film Indonesia di (khususnya) Semarang? Beberapa waktu belakangan ini, tak ada film lokal yang bertahan lebih dari dua minggu. Mendadak Dangdut bahkan hanya seminggu lebih sedikit. Satu-satunya yang “selamat” hanya Heart, yang tetap diputar sampai hampir empat bulan.

Mungkin karena merasa annoyed sendiri, ada di antara para pembaca itu yang akhirnya nggak tahan untuk nggak berkomentar plus protes. Lewat rubrik Surat Pembaca pada hari Kamis 24 Agustus 2006, seorang warga Jambu, Ambarawa, yang bernama Betty W Kusuma protes keras karena ia meng-cancel niatnya nonton Cewe Matrepolis, Ekskul, dan Gotcha! gara-gara ilfeel setelah baca resensi-resensiku.

Ia menulis, “Kenapa sih penulis ulasan itu hobi mencela film dari negeri sendiri? Bukankah kita harus mencintai produk dalam negeri…?”. Betty juga menambahkan, “Tapi mbok yao, si pengulas memberi sedikit saja alasan yang bisa membuat film kita pantas ditonton. Masa iya sih semua film Indonesia nggak ada kelebihannya sama sekali…?”.

Dua hari kemudian, aku langsung ngasih tanggapan di rubrik yang sama. Pada intinya kutekankan, film adalah sebuah pengalaman yang amat personal. Terlepas dari pencapaian kualitasnya, satu film bisa ngasih efek berbeda-beda bagi tiap orang. Jadi keputusan nonton atau nggak hendaknya ya jangan terpengaruh bacaan resensiku.

Yang jelas tulisanku nggak berisi celaan, karena nggak berkaitan dengan selera dan perasaan suka atau benci. Aku merensi berdasarkan indikator-indikator yang sangat gamblang dan empirik. Ada ukurannya, ada patokannya, dan ada ilmunya, sehingga semua orang bisa mempelajari.

Sebuah film diukur dari ceritanya, logis atau nggak. Dari dialog-dialog hasil karya penulis skenario, bernas atau nggak. Dari kualitas akting para pemainnya, natural atau nggak. Dari pesan moralnya, bagus atau nggak. Dan terakhir dari sisi teknis sinematografinya, seperti camerawork, directing, editing, dll.

Dalam semua segi itu, film kita jeblok parah. Kejeblokan yang paling heboh selalu berada pada kualitas akting dan logika cerita. Akting bintang-bintang film masa sekarang 99% parah karena mereka nggak diambil dari pentas teater seperti era Didi Petet dan Christine Hakim dulu, melainkan modelling.

Penulis kita juga hobi menelurkan cerita-cerita yang minta ampun nggak logis. Contoh, dalam Mendadak Dangdut, Monty Tiwa mereka sebuah cerita fantastis tentang orang yang melarikan diri dari tahanan polisi dan bersembunyi dengan cara menyamar menjadi penyanyi dangdut organ tunggal. Ini goblok apa gueblek? Kenapa nggak sekalian menyamar menjadi penjual pecel kakilima yang menggelar dagangan di jalan depan Mabes Polri atau Mabes TNI di Cilangkap!?

Apakah yang seperti itu pantas dipuji sanjung dan diacungi dua jempol hanya karena Mendadak Dangdut dibuat oleh Rudi Soedjarwo? Di mana letak rasa cinta kita kalau kita membiarkan saja teman atau anak kita terus-menerus terbuai dan melakukan kesalahan yang sama over and over again?

Dengan sebuah “bolong-bolong” itu, satu-satunya alasan yang membuat film kita pantas ditonton hanyalah, “Kasihan dong! Masa nggak ditonton? Masa nggak rela ngeluarin duit 20 ribu aja? Mas Rudi kan udah capek-capek membuatnya siang-malem…?”.

Dan kecuali beberapa judul yang bener-bener bagus macam Petualangan Sherina, Arisan!, Janji Joni, Gie, atau Berbagi Suami, memang sungguh-sungguh nggak ada kelebihan dari semua film Indonesia saat ini. Semua dibikin dengan semangat malas. Malas untuk bereksplorasi, malas untuk “total football”, malas untuk riset, dan terutama sekali malas untuk mengukur dengan hati nurani apakah sesuatu itu sudah logis apa belum!

Kedukaanku makin bertambah karena akhir pekan lalu (8-10 September 2006), sebuah film Thailand berjudul Tom Yam Goong dirilis di Amerika dan sukses menembus Box Office dengan meraup pendapatan tiket $ 5,3 juta (Rp 50,4 miliar) pada pekan pertama sejak diputar perdana 8 September. Aku terganggu karena ini Thailand geto loch!? Kalau yang masuk BO adalah film asing buatan Taiwan (Crouching Tiger, Hidden Dragon), Italia (La Vita e Bella), Inggris (semua film James Bond), China (House of Flying Daggers), atau Prancis (March of the Penguins) sih masih wajar. Tapi Thailand? THAILAND!? Tetangga kita sendiri!?

Thailand (dan juga Korea Selatan) belakangan ini memang maju pesat dalam bisnis film. Dan sementara film mereka dibeli oleh distributor Hollywood, diedarkan di Amerika, dan sukses pula secara komersial, film terbaru kita yang berjudul I Love You, Om… masih memuat ending berisi tokoh utama yang mati tertabrak mobil dan dokter yang berucap sedih, “Kami sudah berusaha, tapi…” seperti film-film tahun 70-an.

Lima tahun lalu, ada gosip film kita akan go Hollywood. Ceritanya, Rizal Manthovani dan Jose Purnomo berangkat ke Amerika dan mempertontonkan film mereka, Jelangkung, pada produser tenar Jerry Bruckheimer (Pearl Harbor, Armageddon, CSI). Kabarnya Bruckheimer terpikat pada hasil kerja mereka dan memberi mereka kesempatan untuk men-direct film yang ia produksi. Menurut gosip waktu itu, film itu adalah sebuah film horor yang berjudul The Well dan akan beredar akhir tahun 2003.

Tapi gosip tinggal gosip, proyek itu tak pernah terealisasi. Baik Rizal maupun Jose masih ngendon di sini bikin videoklip musik seperti 10 tahun lalu. Yang sukses go Hollywood justru tetangga sebelah dari Thailand. Kita? Masih saja berucap, “Kami sudah berusaha, tapi…”

Ode to Our Family

Rendezvous_at_8Judul: Teen’s Heart: Rendezvous at 8

Pengarang: Wiwien Wintarto

Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta

Tebal: 253 halaman

Cetakan: Ke-1 (Maret 2006)

Genre: Romance/comedy

Harga: Rp 28.800

Apa yang jauh lebih berharga daripada harta semahal apapun? Pangkat setinggi apapun? Atau petualangan sedahsyat apapun? Dari segala jawaban yang mungkin nyantol di kepala kita, ujung-ujungnya kita akan kembali ke jawaban paling simpel yang bisa kita pikirkan, yaitu keluarga. Yap, family is the most important thing in our life. Tanpa mereka, kita bukan apa-apa. Hidup bukan hidup jika kita nggak punya tempat untuk pulang, baik dalam bentuk fisik maupun dalam wujud hati orang-orang yang peduli.

Novel keempat saya, Rendezvous at 8, adalah hadiah sederhana buat orang-orang yang mencintai keluarga dan bagi mereka yang merindukan hadirnya keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam cerita ini. Jika kamu selalu merasa dirimu adalah bagian dari sebuah keluarga, maka inilah buku yang akan membuatmu kian menyayangi mereka.

Kisah dibuka saat Vida diaudisi menjadi vokalis band indie lokal Semarang, Rendezvous. Vida yang masih duduk di kelas XI SMA Lazuardi langsung diterima, dan ia segera menjadi bagian dari Rendezvous yang terdiri atas Erland pada keyboard, Tika (bass), Okan (drum), dan Bima (gitar). Rendezvous beraliran smooth jazz dan R&B. Mereka baru aja ditinggal cabut vokalis lama mereka, Eva.

Keberhasilan itu udah pasti bikin Vida gembira bukan main. Yang lebih histeris adalah Leia, sobat karibnya. Leia sudah sejak lama ngefans berat sama Erland. Dan perasaan itu kemudian berubah jadi sesuatu yang dalam manakala ia putus dari Diko, cowoknya, dan mulai berteman baik dengan Erland.

Sayang euforia Vida dan Leia nggak berumur panjang. Terutama Vida sebagai personel tergres, ia langsung berhadapan dengan realitas yang terpampang bahwa Rendezvous sebenarnya tengah terancam bubar karena digerogoti permasalahan internal yang amat parah. Dan semua persoalan itu bersumber dari diri Erland yang arogan, sok ngatur, kepala batu, dan nggak pernah mau mendengar pendapat orang lain.

Nggak hanya itu, masing-masing personel pun membawa problem-problem pribadi yang amat gawat. Meski beda-beda, tapi ujung pangkal permasalahan mereka cuman satu. Mereka kesepian, hidup sendiri, dan nggak punya keluarga yang manis, rukun, dan hangat kayak keluarga Vida.

Lucunya, tanpa dikomando, mereka seperti menemukan pelabuhan pencarian mereka pada diri Vida. Untuk pertama kalinya seumur hidup, mereka menemukan rumah dan keluarga tempat pulang, biarpun itu bukan rumah dan keluarga mereka sendiri. Buat pertama kali, akhirnya ada yang selalu mau bikinin mereka nasi goreng lezat dan ngasih ruang untuk tidur pulas meski berdesak-desakan.

Perlahan tapi pasti, sekalipun nggak disengaja, Vida akhirnya bisa mengurai benang kusut permasalahan mereka satu demi satu. Ia berhasil merekatkan kembali Rendezvous dan mengubah nama band itu jadi Rendezvous at 8. Selain itu, ia juga langsung bisa menulis dua lagu berlirik bahasa Inggris buat mereka, yaitu Even If the Stars Would Fall dan Rendezvous at 8.

Di pihak lain, ada jalinan cinta agak rumit yang semua bersumber dari dirinya. Erland langsung suka sejak pertemuan pertama, karena wajah Vida mirip sekali dengan wajah mendiang mamanya. Ada juga Wira, editor Tabloid Remaja Abege, yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Terakhir ada Rudi, teman Vida sejak kecil, yang tahu-tahu saja, nggak ada hujan nggak ada angin, terpanah asmara gara-gara sindrom waiting traisn jalaran saka kulaiyen (witing tresna jalaran saka kulina-Red).

Vida yang polos nggak menyadari semua pusaran yang sangat menguras emosi itu. Yang tahu justru sobat-sobat karibnya itu, Leia dan Rudi. Mereka pula yang paling menderita gara-gara urusan ini. Rudi lunglai karena Vida kayaknya nggak ada rencana untuk balas menganggapnya secara khusus pula. Sedang Leia yang bener-bener kasmaran pada Erland sepeninggal Diko, dengan berat hati harus menerima kenyataan bahwa hati Erland udah kadung tertambat ke orang lain.

Tapi seperti ungkapan “hidup ini mirip pasar kaget karena selalu penuh dengan barang-barang yang mengagetkan”, akhirnya tetep aja akan ada kejutan manis buat semua orang, terutama bagi mereka yang menderita dan nelangsa karena asmara.

Rendezvous at 8 adalah sebuah pengingatan (remembrance) terhadap keluarga tersayang kita masing-masing. Bukan hanya keluarga serumah, tapi juga keluarga dalam bentuk apa aja. Bisa geng sekelas, teman satu band, kru majalah sekolah, sobat dekat sejak kecil, kekasih, teman baru yang udah langsung nyetel, atau apapun tempat kita dikelilingi oleh orang-orang yang selalu sayang dan peduli pada kita.

Kadang kita lupa dan nggak menyadari betapa penting kehadiran mereka buat kita selama ini. Lantas, kita baru ngeh saat mereka udah nggak ada lagi, mirip “but u don’t know what u got till it’s gone” dari Big Yellow Taxi-nya Counting Crows & Vanessa Carlton. Buku ini akan membuat kita menyadari keajaiban mereka selagi mereka masih ada di sekitar kita dan masih bisa kita temui kapan saja kita mau.

Seperti biasa, Rendezvous at 8 masih berkaitan dengan ketiga novel saya terdahulu. Bella dan Emma teman akrab Vida & Leia di sini adalah Bella dan Emma dari novel kedua, Waiting 4 Tomorrow. Elan Naratama pemain yunior PSIS yang akan diwawancarai Wira adalah Elan tokoh utama novel ketiga, The Rain Within. Rainie Febri, marketing Radio Ozone yang mensponsori event jurnalistiknya Leia, adalah Rain pacar Elan dalam The Rain Within. Dan Tabloid Liga adalah kantor tempat bekerja Adi, tokoh utama novel pertama, Kok Jadi Gini?.

Wira dan Adi sendiri nongol jadi “cameo” di The Rain Within, yaitu ketika Elan menonton sesi pemotretan Wening di Redaksi Abege. Vida bareng Rendezvous at 8 juga nongol sekilas dalam The Rain Within. Mereka tampil sepanggung dengan Romantic Tractor dan Paprika dalam pensi SMA Lazuardi yang dihadiri Elan & Rainie.

Nah, di bagian akhir Rendezvous at 8, yang gantian jadi cameo adalah Dini dan Maya, anak SMA Negeri 25 yang jadi reporter magang Tabloid Abege. Mereka ini akan jadi dua tokoh utama dalam novel kelima nanti yang udah jadi danakan segera nongol as soon as possible.

So, here it is—sebuah novel sederhana yang akan membuat kita, at least for once in our life, bilang “I love u” pada keluarga kita masing-masing sebelum nggak sempat lagi dan waktu keburu membawa mereka pergi entah ke mana…

Memasuki Area Kelabu

AphroditeJudul: Aphrodite

Pengarang: Laire Siwi Mentari

Penerbit: Kata Kita (Depok)

Tebal: 202 halaman

Cetakan: Ke-1 (Oktober 2005)

Genre: Drama/romance/comedy

Verdict: B-

Dalam buku-buku cerita silat, kerap kita jumpai episode kayak gini: sang tokoh utama kalah bertarung dari tokoh jahat yang sakti, lantas masuk jurang. Bukannya mati, doi malah terperosok ke goa yang di dindingnya terpahat sederetan jurus maut. Sedikit demi sedikit ia mempelajari rangkaian jurus itu. Setahun kemudian, ketika ia keluar lagi, jagoan kita udah menjelma menjadi pendekar sakti tanpa tandingan.

Cerita serupa terjadi pada Laire Siwi Mentari, pengarang ABG yang tahun lalu meroket lewat novel best-seller, Nothing but Love (Semata Cinta). Bila dalam novel itu doi masih banyak ninggalin cacat yang amat mengganggu, kali ini Laire tampil almost perfect dalam novel keduanya yang dikasih titel Aphrodite.

Novel ini berkisah tentang Aphrodite, alias Odit, seorang cewek SMA berusia 16 tahun yang ambisius, cuek, keras, selalu optimistis, dan punya insting yang kuat. Ia tumbuh dalam keluarga single parent setelah bokapnya ninggalin nyokapnya saat ia masih dalam kandungan. Ia pun lantas diasuh sendirian oleh sang nyokap yang ditemani seorang tetangga setia bernama Mama Eni.

Di luar kesibukan sekolahnya, Odit menjadi vokalis sebuah band yang bernama RAG (Rhythm And Groove). Di situ ia gabung bareng Jemy, Lano, Iban, Rayi, Radit, dan Jingga. Dua di antara mereka punya arti khusus baginya. Jemy adalah sahabatnya sejak kecil, sedang Lano yang putih, ganteng, dan tajir adalah cowok yang kini tengah gencar mengisi hatinya.

Satu lagi teman dekatnya adalah cowok adik kelasnya yang bernama Arion. Dengan Arion, Odit selalu bertengkar dan adu mulut. Namun entah dengan cara bagaimana, mereka seolah punya mysterious connection yang bikin keduanya, meski masih aja tetap adu mulut seperti biasa, tapi bisa lebur jadi teman curhat yang oke.

Hidup bahagia Odit mulai berubah ketika Lano ngaku terus terang pada semua sohibnya di RAG bahwa ia naksir kakak kelas mereka, Gisela. Fakta ini udah pasti bikin Odit stres sampe-sampe ia berencana untuk bunuh diri segala. Ia juga mikirin sederetan ide buat menghambat kedekatan Lano dengan Gisela. Untungnya, semua letupan gagasan aneh ini nggak satupun jadi nyata.

Ada juga subplot tentang pencarian Odit terhadap jatidiri bokapnya yang biasa ia juluki “biadab” atau “bedebah”. Unsur cerita ini, ditambah dengan identitas mantan pacar Gisela yang bikin Lano patah hati, penjelasan di balik kaitan misterius antara Odit dan Arion, serta siapa sesungguhnya sosok true love-nya Odit, berkumpul menjadi klimaks melodrama yang amat menarik pada bagian akhir.

Mengamati perjalanan Laire dalam Nothing but Love dan lantas Aphrodite adalah seperti mengamati sebuah proses evolusi. Cewek kelahiran 10 November 1988 ini berkembang dari kepompong yang statis dan serba canggung menjadi kupu-kupu yang terbang kian kemari dan memesona pembaca dengan kata-kata dan gaya bahasanya yang lincah dan akurat.

Ditulis dengan angle orang pertama memakai sebutan khas remaja, “Gwe”, Aphrodite udah nggak memiliki dua kelemahan utama Nothing but Love, yaitu boros materi dan plot “semua-anak-punya-BMW”.

Kali ini Laire sangat efisien. Semua narasi, dialog, deskripsi karakter, dan deretan lirik lagu dipake sesuai tuntutan logika cerita. Ia juga udah berani masuk ke berbagai “area kelabu” yang selama ini haram tersentuh novel-novel teenlit, kayak keadaan keluarga Odit yang fatherless, “ngerokok adalah salah satu terapi ngilangin stres” (hal 39), atau “untung gwe belom sempet ngebuka handuk waktu masuk kamar…” (hal 17).

Membaca Aphrodite adalah untuk pertama kalinya karakter sebuah novel genre teenlit bener-bener bertemu realita hidup yang kadang keras dan nggak ramah. Keluhan Odit soal ia yang kuper karena bukan orang berduit kayak temen-temennya di RAG adalah keluhan sebagian besar dari kita, yang kebetulan nggak pada punya BMW dan ikut bingung karena stok minyak tanah di pengecer tau-tau kosong.

Meski begitu, unsur cerita soal RAG kurang tergarap maksimal. Salah satunya adalah soal personel RAG yang terlalu banyak, mencapai tujuh orang. Kondisi ini membuat Radit, Rayi, dan Jingga muncul tanpa guna karena nggak ada konflik atau “jatah” subplot sedikitpun buat mereka.

Kemunculan RAG yang hanya sekadar disebut dan lantas baru main pada adegan terakhir saat mereka membawakan You’ve Got a Friend-nya McFly buat Odit dalam pesta ultah Jingga juga ninggalin sebuah lubang besar.

Andai aja Laire bisa ngasih detail tentang suasana latihan, konflik antarpersonel, aliran musik, atau serunya diskusi RAG saat menulis dan mengaransemen lagu buatan mereka sendiri, pasti akan ada banyak pengetahuan tambahan yang bermanfaat buat pembaca soal kehidupan band-band sekolah.

But, anyway, Aphrodite adalah sebuah major improvement dari seorang Laire. Nggak cuman soal skill berbahasa, doi juga hadir dengan pemahaman yang lebih dalem soal cinta dan hidup.

Tengok aja deh suasana pertemuan Odit dengan true love-nya serta perumpamaan dirinya dengan embun yang akan menghilang bila hari telah siang (hal 198), maka kamu akan paham “evolusi” macam apa yang telah terjadi pada Laire dan yang juga tengah kamu pelajari.

At last! A teenlit with so much to be remembered and a lot to be learned…!

Yang Keren Tanpa Gizi

Jangan_ngomong_cintaJudul: Teen’s Heart: Jangan Ngomong Cinta, Deh!

Pengarang: Agnes Jessica

Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta

Tebal: 188 halaman

Cetakan: Ke-1 (2005)

Genre: Drama/romance/comedy

Harga: Rp 21.800

Verdict: D-

Ada satu pola besar yang terkandung dalam sebagian besar novel-novel teenlit buatan para pengarang muda masa kini, yaitu nuansa film-film Hollywood. Itu dimulai sejak dari pilihan nama tokoh, “pinjaman” budaya dan aneka macam kondisi psikologis, serta plot cerita.

Pola yang sama juga tak terhindarkan dalam novel mungil Teen’s Heart: Jangan Ngomong Cinta, Deh! (JNC) karangan Agnes Jessica. Novel kesekian dari merek Teen’s Heart milik Elex Media Komputindo ini bahkan murni berisi deretan cliches (hal-hal klise) dari sederetan judul film remaja dan film-film komedi romantis Amrik yang beredar di sini.

JNC berkisah tentang tiga sahabat cewek yang, tentu saja nggak bernama Rani, Dewi, atau Dian, melainkan Janice, Verina, dan Cecilia (nggak tau juga apakah mereka ekspat dari Amrik atau anak-anak kaum urban metropolitan yang dinamai menurut tradisi orang barat untuk mengangkat gengsi keluarga!).

Setelah putus dari Andrew, Jen pacaran ama Elbert. Namun hubungan mereka nggak berlangsung lama karena Elbert tewas dalam sebuah insiden tawuran pelajar. Jen pun nggak pacaran lagi karena ia nggak pernah bisa membebaskan kenangan cintanya pada Elbert.

Berikutnya, ia dibingungkan oleh kakak beradik seayah tapi lain ibu, Reza dan Marco. Reza mirip tokoh Davi dalam Fairish-nya Esty Kinasih dan Dira dari DeaLova-nya Dyan Nuranindya, yaitu “jahat-pada-cewek-tapi-akhirnya-bertekuk-lutut-pada-sang-tokoh-utama”, sedang Marco cenderung pendiam dan misterius. Jen naksir mereka berdua.

Masalah makin rumit ketika ia berkenalan di chat room internet dengan seorang cowok menyenangkan yang ber-nickname Lion. Deg-degan dan rasa penasaran merajalela ketika ia diajak Lion kopi darat, mirip adegan antara Tom Hanks dan Meg Ryan dalam You’ve Got Mail-nya Nora Ephron.

Ada juga subplot yang melibatkan Ve dan saudara kembarnya, Olivia. Karena jadwal kencannya dengan Mario, cowoknya, bentrok ama kencannya dengan Andre, selingkuhannya, Oliv meminta Ve untuk menggantikan tempatnya dalam kencan dengan Mario.

Karena diancam oleh Oliv yang licik, Ve pun terpaksa nurut. Lucunya, hasil kencan sandiwara itu ternyata luar biasa. Mario dan Ve justru jadi cocok karena mereka punya kesamaan minat dalam hal bikin cerita dan komik manga ala Jepang. Sedang skenario kejam Oliv akhirnya terbongkar ketika Andre nggak lain adalah sepupu Mario!

Yang pertama sekali, novel ini penuh dengan nafas Amerika Serikat. Nggak cuman karena para tokohnya mendesah “Phew..!” dan bukannya “Waduh..!”, namun juga karena ada begitu banyak kerabat mereka yang pindah jadi warga negara Amrik serta tiba-tiba jabatan struktural di OSIS (terutama Ketua) terlihat begitu keren karena OSIS di sini sama dengan Student President yang ada di film-film remaja Hollywood.

Jika bukan karena Agnes Jessica mencantumkan lokasi “Jakarta Selatan” di halaman 1 dan “Indonesia” di halaman 165, kita pasti akan menyangka JNC adalah novel impor terjemahan dari Amrik. Masih untung, nggak kayak Upi Avianto dalam Lovely Luna, gaya bahasa Agnes cukup standar lokal dan nggak terlalu beraksen Hollywood.

JNC juga berasa kayak mosaik yang berisi tempelan aneka macam unsur plot dari film-film Amrik. Kalo kita rajin nonton film-film itu, kita pasti udah familiar dengan plot “kembar-yang-bertukar-tempat-dan-menemukan-true-love” serta “sobat-chatting-di-internet-yang-ternyata-musuh-besar-di-dunia-nyata” macam di, itu tadi, You’ve Got Mail.

Namun yang paling mengganggu dari novel ini adalah kebiasaan para pengarang teenlit untuk boros materi yang ternyata juga dianut Agnes. Sama sekali nggak ada plot atau peran yang berarti tersaji buat sobat ketiga, Cecilia. Tokoh ini hanya sesekali numpang lewat dan berkomentar. Seandainya ia dihapus dan tokoh utama cerita ini hanya Jen dan Ve pun, bobot JNC tetep nggak akan berkurang.

Banyak pula materi bagus yang telantar tanpa guna. Kalo Agnes mau ngadain riset sedikit aja, ia bisa ngasih banyak pengetahuan berharga soal detail penggunaan plasenta sebagai obat awet muda. Ia juga nggak mau masuk lebih dalam untuk menguak suka duka sehari-hari para pengurus OSIS.

Padahal kalo elemen ini digarap serius, Agnes bisa membuat JNC-nya sama berbobot dengan plot soal R.A.S.A. (Riverdale Against Sex Abuse) dalam Kana di Negeri Kiwi-nya Rosemary Kesauly, paparan komunitas emo rock dalam Bravo! Jins Belel-nya Anita, dan lika-liku kehidupan wartawan pemula dalam Ciuman Terhangat-nya Nora Umres.

Akhirnya, sebagai bagian dari “junk food literature”, novel-novel genre teenlit seperti ini emang mirip acara santap di gerai fast food di mal-mal. Yang terpenting keren dan gengsinya. Gizi? No way, Baby…!

                                                                                                  

Untuk Kita Renungkan

(Diceritakan oleh Herman; koordinator grafis Tabloid Tren Semarang)

Pernah suatu ketika, seorang alim ulama mengalami kecelakaan hebat dan terluka amat parah sehingga ia berada dalam keadaan koma. Selama beberapa hari ia mati suri. Setelah keluarga dan sahabat-sahabatnya mendoakan kesembuhannya, berangsur-angsur kondisinya membaik hingga akhirnya ia bisa kembali sadar lagi seperti sediakala.

Kemudian, di hadapan semua orang termasuk murid-murid mengajinya, Pak Kiai bercerita bahwa selama ia mati suri, ia hampir-hampir memasuki alam akherat. Di sana ia melihat-lihat suasana neraka. Dan yang dilihatnya sungguh amat mengejutkan.

Karena yang diamatinya di sana, kondisi neraka nggak seperti yang ia bayangkan selama ini. Para penghuni neraka hidup tenteram di alam yang mirip kompleks kondominium kelas atas di Jakarta. Beberapa di antara mereka berkeliaran dengan Porsche, Mercy, atau BMW. Ada yang jalan-jalan dengan pacar masing-masing. Ada pula yang pergi main golf dengan mitra bisnis atau teman dekat.

Pengalaman near death experience ini begitu membekas di benak Pak Kiai. Seakan-akan semua ajaran yang ia geluti selama ini menemui antitesis yang amat genting. Dalam sisa hidup selanjutnya, ia nggak lagi memburu surga sebagaimana yang sebelumnya ia yakini, namun justru amat penasaran pada neraka.

Maka ketika 10 tahun kemudian ia benar-benar meninggal sungguhan, roh Pak Kiai mengeluarkan statement yang amat mengejutkan saat berada di akherat dan dihadapi oleh para malaikat. Meski rapornya bagus dan ia berhak masuk surga, ia justru pengin pergi ke neraka untuk membuktikan kebenaran penglihatannya dulu.

Tentu saja para malaikat bingung menanggapi permintaannya. Tapi karena ia ngotot, mereka pun mengantarnya ke pintu gerbang neraka. Alangkah terkejutnya Pak Kiai ketika di sana ia menyaksikan jilatan api berkobar dahsyat menyiksa para pendosa dengan berbagai macam siksaan yang keji dan tak terperi kengeriannya. Amat lain dengan neraka yang dulu pernah disaksikannya saat ia mati suri.

“Lho, kok jadi gini?” desisnya kaget. “Dulu suasananya tenteram, orang-orang pergi piknik pake mobil mewah. Ini neraka yang sama dengan yang dulu kulihat pas mati suri kan?”

“Tentu saja. Emang ada neraka tiruan?” sahut malaikat cuek.

“Tapi yang dulu kok bagus? Sekarang kok jadi gini!?”

“Tentu saja beda. Waktu itu neraka lagi ngadain bulan promosi…”

Unlock Your Imagination

FindingneverlandJudul: Finding Neverland

Bintang: Johnny Depp, Kate Winslet, Julie Christie, Dustin Hoffman

Sutradara: Marc Forster

Genre: Drama

Durasi: 106 menit

Distributor: Miramax Films

My Grade: B+

Unlock your imagination” adalah sepenggal kalimat yang sederhana tapi punya arti yang luar biasa dahsyat. Dalam Finding Neverland karya Marc Forster, itu adalah saat kita bisa membebaskan diri dari apapun yang kita alami dan membuatnya menjadi indah hanya dengan satu syarat yang juga sederhana: “Only when you believe…”

Finding Neverland berkisah tentang fragmen terpenting dalam kehidupan novelis dan penulis naskah drama kenamaan asal Skotlandia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Sir James Matthew Barrie. Penulis yang lebih dikenal dengan nama pena JM Barrie ini adalah pengarang kisah dongeng klasik Peter Pan.

Cerita dibuka di London tahun 1903 ketika drama terbaru Barrie (Johhny Depp) anjlok di mata para kritikus dan juga audiens. Celakanya, ia tengah mengalami writer’s block gara-gara kehidupan rumah tangganya dengan Mary Ansell (Radha Mitchell), isterinya, mengalami kebekuan gairah yang amat parah.

Untuk nyari ide, Barrie lantas jalan-jalan di Kensington Garden bareng anjingnya, Porthos. Di sana, secara kebetulan ia bertemu dengan seorang janda bernama Sylvia Llewelyn Davies (Kate Winslet) dan empat orang anaknya, Peter (Freddie Highmore), Jack (Joe Prospero), George (Nick Roud), dan Michael (Luke Spill).

Pertemuan itu mempertemukan masing-masing dari mereka dengan apa yang mereka cari selama ini. Barrie dengan imajinasi dan cinta sejati. Sylvia dengan sosok suami. Dan anak-anak itu dengan figur ayah yang hilang begitu cepat saat mereka masih sangat membutuhkannya. Suami Sylvia, Arthur, memang dikisahkan telah meninggal karena sakit.

Barrie pun kemudian mulai bersahabat erat dengan Keluarga Davies, terutama dengan anak-anak Sylvia. Mereka membuka kunci imajinasinya. Ia mengajak mereka bermain koboi-Indian dan bajak laut dengan setting mirip pentas sandiwara. Ia juga mendorong Peter untuk mulai berani menulis dan mencurahkan ide lewat tulisan.

Merekalah yang kemudian membuka batasan-batasan dalam diri Barrie untuk nggak hanya nampilin cerita-cerita yang formal dan “nyata”, namun juga yang sangat absurd dan fantastis. Charles Frohman (Dustin Hoffman), produser sandiwara Barrie pun hanya bisa mengurut dada dengan heran ketika Barrie nongol dengan naskah yang berisi peri, bocah yang bisa terbang, dan anjing yang bisa mengambil koran. Dia pikir, Barrie pastilah sudah sinting!

Namun naskah inilah yang kemudian sukses luar biasa. Peter Pan yang bertutur tentang seorang bocah yang bisa terbang yang menolak untuk tumbuh dewasa dan tinggal di sebuah tempat ajaib bernama Neverland dan ditemani sesosok peri mungil bernama Tinker Bell adalah mahakarya abadi JM Barrie. Ia sukses ketika masuk ke teritori cerita yang selama ini tak pernah ia sentuh, yaitu dongeng fantasi anak-anak.

Unlock his imagination. Itulah yang terjadi pada Barrie sesudah ia bertemu dengan anak-anak Davies, terutama Peter yang sangat asertif dan emosional saat berkata pada Barrie, “You are not my father!” ketika ia telanjur jatuh cinta pada Barrie tapi di sisi lain nggak mau sosok ayahnya tergeser oleh laki-laki lain.

Finding Neverland adalah sebuah tontonan halus yang mampu menggugah emosi terdalam kita dengan cara yang sangat halus pula. Kita nggak akan peduli pada apa yang akan terjadi pada Barrie, pada Mary, atau pada apakah pada akhirnya rumah tangga Barrie retak dan ia bisa bersatu dengan cinta sejatinya, Sylvia.

Kita nggak akan peduli pada semua remeh temeh itu, karena ini bukan sebuah kisah tentang kisah, melainkan kisah tentang karakter. Kita tersenyum melihat perubahan pada diri Barrie, simpati pada keuletan Sylvia membesarkan empat orang anak sendirian, sebal namun bisa memahami kesangaran Emma du Maurier (Julie Christie) dalam melindungi keluarganya, dan terharu menyaksikan tawa geli anak-anak panti asuhan saat menonton premiere Peter Pan di London.

Kelebihan lain ada pada dialog buatan sang penulis skenario, David Magee. Nggak satupun penggalan dialog “mengumumkan” pada kita perasaan semua tokoh dalam film ini. Jadi, apapun yang ingin kita tahu dari mereka hanya bisa kita gali dengan menyelami raut wajah, sorot mata, serta cara mereka tersenyum satu sama lain. Dan itu bisa terwujud berkat permainan akting Depp, Winslet, Christie, serta Highmore yang benar-benar brilian.

Bagi saya pribadi, Finding Neverland adalah sebuah sensasi tersendiri. Film ini udah memikat saya sejak dari judulnya yang luar biasa indah itu. Finding Neverland nggak hanya sebuah judul film, tapi juga anjuran bagi kita semua untuk bisa menemukan jendela imajinasi dan menggapai kembali kegembiraan masa kanak-kanak kita biar hidup nggak terlalu kering dan serius-serius amat.

Biar kita bisa berkata pada diri kita sendiri persis seperti apa yang dikatakan Barrie pada Peter di ending film: “She lives in every page of your imaginationOnly when you believe…!”

Dan tahu bahwa sebenernya kita bisa pergi ke mana saja, jadi apa saja, dan menginginkan apa saja dalam kehidupan fana yang amat singkat ini…

Rumus 5:3

Sebagai seorang penulis, kerjaan jadi penulis skenario alias screenwriter merupakan salah satu impian yang paling menyenangkan. Selain karena duitnya lumayan, ada juga satu misi mulia yang pengin kuemban, yaitu mengembalikan dunia sinema (film + sinetron) kita ke “jalan yang benar”.

Karena itu ketika, tahun 2003 lalu, aku mendapat peluang kerja jadi penulis skenario untuk sinetron dari sebuah PH di Jakarta, aku bener-bener menyambutnya dengan antusias. Ini adalah once in a lifetime opportunity, pikirku. Kesempatan untuk memperbaiki apa yang udah rusak parah tapi justru makin laris dijual.

Ceritanya, pasangan suami isteri Humam Afief & Paquita Widjaja yang dengan PH mereka, Sintesa Production, sukses lewat serial Sangkuriang di SCTV, pengin nyari cerita rakyat lain lagi untuk diangkat ke sinetron mirip Sangkuriang. Dan yang mereka pilih adalah dongeng Roro Jonggrang.

Humam lantas nyari seorang tokoh pendongeng di Jawa Tengah yang paham betul cerita itu. Dan teman mereka yang bernama Pak Yehana merekomendasikan nama bapakku, Pak Masdi Sunardi (yang ngarang komik strip Pak Bei itu lho!). Singkat kata, Bapak pun kenalan dengan Humam dan sepakat akan berkolaborasi untuk bikin serial Roro Jonggrang.

Awalnya, Bapak diminta bikin sinopsis untuk 26 episode. Karena dia nggak sempat, kerjaan itu lantas dilimpahkan ke aku. Setelah membacanya tuntas, Humam bilang suka. Ceritanya bagus. Lantas dia malah nawarin kalo aku sekalian pengin bikin skenarionya. Wah, gimana aku tega nolak suruhan kerja seempuk ini?

Sebelum aku mulai bikin, Humam terlebih dulu ngasih ancer-ancer teknisnya. Dia bilang, untuk sinetron ber-genre action/adventure/fantasy kayak Sangkuriang dan Roro Jonggrang, penulis skenario harus make perbandingan 5:3. Artinya, dalam 5 adegan, 3 di antaranya harus berisi adegan laga dan hanya 2 yang berisi adegan drama.

Dengan penuh semangat, aku mengerjakan skenarionya. Begitu jadi, langsung kukirim via email. Sayang, nggak kayak sinopsisnya dulu, yang ini mirip skripsi, tersendat di tangan “dosbing” yang rewel dan perfeksionis. Skenarioku berkali-kali dikembalikan untuk direvisi sana-sini. Intinya selalu sama, ceritaku belum memenuhi Rumus 5-3 tadi. Masih terlalu banyak drama daripada laganya. Padahal sesuai teori, unsur laga harus diperbanyak untuk membuat penonton tetap tertarik.

Pada akhirnya, cita-citaku untuk jadi screenwriter sinetron kandas karena urusan Rumus 5-3 ini. Setelah 2 episode, aku resmi di-PHK oleh Humam karena dianggap belum bisa memenuhi standar mereka. Selanjutnya, skenario episode 3 hingga 26 akan digarap oleh “orang dalam” yang sudah terbiasa bikin skenario sinetron laga.

Sampai sekarang, satu pertanyaan yang pengin banget kusampaikan pada Humam bukanlah “Kenapa aku diberhentiin? Kenapaaa!?”, tapi “Orang gila mana di IKJ yang mengajarkan rumus goblok itu sama sampeyan!?”. Sebab, seluruh alur ceritaku jadi hancur lebur gara-gara Humam terlalu mematuhi aturan itu.

Bayangin, ada satu sekuen adegan saat seorang tokoh masuk ke Kota Brambanan untuk bertemu dengan temannya. Belajar dari film-film Amerika, aku membuat rentetan adegan seperti ini untuk menjelaskan sekuen ini pada pemirsa tanpa display dan tanpa dialog apapun:

SCENE 1: Si A naik kuda ngebut melewati hutan untuk menuju Brambanan.

SCENE 2: Si A masuk Brambanan dengan kuda, melewati kerumunan pejalan kaki.

SCENE 3: Si A tiba di rumah Si B, turun dari kuda, menambatkan tali kekang kuda, dan beranjak masuk rumah.

Sesuai rumus, Humam menuntut pada Scene 3, Si A sudah harus berkelahi agar penonton tetap betah nonton. Pertanyaannya adalah, berkelahi dengan siapa? Hebatnya, meski kondisinya secara logika belum memungkinkan terjadinya suatu perkelahian, tuntutan itu tetep mutlak harus dipenuhi entah dengan cara apapun.

Akibatnya, cerita dalam skenario itu pun jadi peot dan centang-perentang nggak keruan demi memenuhi tuntutan “semua orang harus sesering mungkin berkelahi” itu tadi. Dan aku kaget bukan main ketika membaca ulang skenarioku sendiri, aku menjumpai bahwa Si A tadi dalam sehari berkelahi sampai enam kali dengan perampok, pemerkosa, prajurit lawan, perampok lagi, anggota perserikatan jahat, dan terakhir dengan orang gila!

Ketika aku mencoba membandingkan pengalamanku dengan sinetron-sinetron laga lain kayak Damarwulan, Misteri dari Gunung Merapi, atau Jaka Tingkir, ternyata Rumus 5-3 itu emang nyata dan sungguh-sungguh ada. Nggak heran plot Jaka Tingkir begitu ngaco belo dan asal mBrojol seenaknya, karena Jaka Tingkir dan teman-temannya memang harus rajin untuk adu jotos. Malahan, emang hanya itulah tugas mereka di dunia ini.

Aku pun jadi mikir, benarkah sesimpel dan segampang itu menilai mentalitas kita para pemirsa TV? Apakah kita lebih tertarik nonton film komedi jika adegan orang kejebur sungai diperbanyak? Apakah kita lebih tertarik nonton film drama jika adegan orang tewas tertabrak truk diperbanyak? Apakah kita lebih betah makan sate jika dalam tiap sujen nggak hanya terdiri atas 7 atau 8 sobekan daging, melainkan 40 sekaligus?

Bagaimana dengan karakterisasi? Bagaimana dengan cliffhanger? Bagaimana dengan humor? Bagaimana dengan dialog-dialog yang simpel namun berkesan dan mengharukan?

Aku ingat banget ada salah satu adegan dalam serial Xena: The Warrior Princess yang sangat indah. Digambarkan Xena dan Gabrielle lagi jalan berdampingan dalam bagian ending salah satu episode. Xena bertanya, mengapa Gabrielle selalu setia mengikutinya bertualang. Apa dia nggak tertarik untuk pulang ke rumah.

Ditanya begitu, Gabrielle menjawab ringan, “Temanku Sayang, kadang yang namanya rumah itu nggak harus selalu berarti sebuah tempat di muka Bumi ini. Rumah kita bisa aja berada di dalam hati seseorang…”

Yakin deh, kecuali kamu teroris yang hobi meledakkan bom di tempat umum, pemimpin negara yang memerintahkan praktik genocide, atau karburator yang nggak pernah bisa disuruh untuk memahami emosi, kamu pasti pengin nangis terharu melihat adegan itu dan mendengar dialog sedahsyat itu. Dan penonton udah cukup tertarik untuk menyaksikannya meskipun di situ sama sekali nggak ada orang yang baku pukul sambil berteriak, “Kubunuh kau, Keparat! Ciaaaaaattt…!!”

Intinya, kalo cuman bicara soal elemen yang mampu menarik perhatian pemirsa, penulis skenario yang paling bodoh pun bisa menginventarisasi 10 ribu hal berbeda untuk diletakkan berselang-seling dengan adegan laga. So, aku berkesimpulan dan berkeyakinan, kita tetap bisa bikin pemirsa nggak pindah channel meskipun sebuah episode Roro Jonggrang atau Jaka Tingkir nggak mengandung satupun adegan laga.

Tapi agaknya, yang seperti ini nggak pernah laku di negeri ini. Para sineas TV kita entah terlalu angkuh dengan keyakinan mereka sendiri atau terlalu malas untuk masuk ke gagasan-gagasan baru yang fresh. Dan kurikulum IKJ barangkali emang membentuk sineas-sineas yang punya mentalitas “Penonton kita kan goblok, jadi pikirkan aja ide-ide paling bodoh yang bisa kamu bikin hanya dalam 2 hari syuting!”

Mengingat kembali pengalaman itu dan membandingkannya dengan pengalamanku kini terjun di bisnis novel remaja, aku bersyukur akhirnya nggak jadi masuk ke dunia sinetron tempat satu-satunya motto yang dikenal hanyalah “Makin bodoh, makin baik” itu. Meski tetep aja profit-oriented banget dan sama sekali nggak berdasar atas idealisme, orang-orang Elex Media nggak pernah ngasih tuntutan aneh-aneh seperti “Semua tokoh di novelmu harus kaya raya dan sekali seumur hidup at least pernah naik BMW”.

Soal serial Roro Jonggrang sendiri, akhirnya setelah lewat 2 tahun lebih, saat ini nggak ada lagi kabarnya lebih lanjut. Terakhir kali kontak pas nerima honor Rp 1 juta untuk skenario 2 episode, Humam bilang Roro Jonggrang udah syuting 13 episode dan tinggal nunggu jadwal tayang dari SCTV.

Namun hingga kini belum juga ada tanda-tanda Roro Jonggrang-ku (meski hanya 2 episode) bakalan muncul di SCTV. Yang nongol justru sinetron bodoh tentang Gatotkaca melawan Dajjal bikinan MD Entertainment. Kabar terakhir bahkan nyebutin, Sintesa Production kolaps dan nggak lagi berproduksi.

Tapi sudahlah, sekarang aku nggak lagi peduli tentang itu, tentang mereka. Percuma diurusi. Yang bodoh tetap saja bodoh…

On Our Own

Antre_bbm “SBY sucks!”

Begitu isi sebuah SMS yang dikirim seorang teman pada dini hari 1 Oktober ketika Aburizal Bakrie mengumumkan harga premium naik jadi Rp 4.500 perliter dan minyak tanah jadi Rp 2.000 perliter.

Telanjur judeg karena pas main Championship Manager 03/04 kalah terus sementara Desperate Housewifes lagi main di Indosiar dan dipotong oleh kabar buruk itu, aku menjawab dengan ngirim reply berbunyi,

“Persebaya sucks!!”

Aku yakin, Anda-anda, kalian-kalian semua, pasti menyalahkan presiden kita yang pinter nyanyi “Tiga puluh menit…” itu untuk semua keadaan buruk ini. Kalaupun nggak menyalahkan, pasti nyesel kenapa dulu pas Pemilu 2004 nyoblos gambar belio dan bukan gambar Bu Megawati Taufikiemasisteri.

Well, aku bukan golongan pembela SBY. Aku juga bukan simpatisan Partai Demokrat. Tapi aku pengin sekali tahu, what good does it bring? Kalo ada yang punya bukti otentik bahwa “dengan menyalahkan dan marah-marah dan menyesal punya presiden seperti SBY maka harga BBM akan kembali turun”, maka aku pun akan ikut marah padanya. Aku akan mengkoordinir para warga untuk bikin Gerakan SBY Sucks.

Tapi seandainya enggak, dan harga premium tetep aja Rp 4.500 dan PSIS tetep aja juara III Liga Indonesia 2005 nggak peduli berapa kalipun kita marah-marah pada suami Bu Kristiani itu, ya mending kembali ke depan komputer nerusin bikin novel sambil mikir “So what geto loch…?”

Masalahnya adalah, ketika sesuatu (yang buruk) berlangsung, kadang kita jauh lebih sibuk mengeluarkan energi untuk bereaksi daripada “mempersenjatai” diri untuk menghadapi apa yang bakal terjadi.

Ketika ditinggal pergi orang yang disayangi, kita jauh lebih sibuk menangis dan meratap ketimbang memikirkan ke depannya bagaimana kita tetep bisa survive meski tanpa dirinya lagi.

Ketika patah hati karena putus cinta atau ditolak gebetan, kita jauh lebih sibuk bikin puisi dan termehek-mehek selama berbulan-bulan ketimbang mikirin gimana caranya bisa dapet gebetan baru lagi.

Dan ketika harga BBM naik seperti sekarang ini, kita jauh lebih sibuk mengumpat Presiden daripada memikirkan satu hal yang sangat simpel dan remeh temeh, yaitu diri kita sendiri. Bagaimana rearrange anggaran bulanan, bagaimana mengatur jadwal kegiatan biar nggak terlalu sering pergi-pergi, dan bagaimana memanfaatkan every single skill yang kita punyai sehingga kita bisa bilang dengan gagah, “Wahai BBM, naiklah semaumu! Aku pasti bisa naik juga dua kali lipatnya!!”

Kenapa di saat diri sendiri sedang kesulitan, kita justru membuang energi kita yang sangat berharga ini hanya untuk mikirin seorang lelaki gemuk sok serius bernama SBY? Kenapa? Kenapa!? Terus kapan kita mulai mikirin diri kita sendiri?

Sebab bukan seperti ini wisdom yang kupelajari dari sepakbola. Dalam olahraga “bola 1 dikerubut 22 orang” ini, kejadian terburuk berupa kemasukan gol nggak disikapi dengan terlalu banyak marah-marah, sedih, atau meratap sampai mencret, tapi dalam hitungan detik dimulai dari kick off langsung turun berjuang lagi tanpa kenal menyerah dengan mentalitas “Kamu bisa bikin 1.000 gol, tapi kami bisa bikin 1.001 gol!!”

Dalam final Liga Champions 1999, MU ketinggalan 0-1 dari Bayern Munchen hingga menit ke-90. Apakah Beckham cs nangis-nangis, marah-marah, dan menyesal? Enggak! Mereka tetep fight sampai detik-detik penghabisan dan berbalik bisa bikin 2 gol dalam 2 menit terakhir injury time.

Dalam 8 Besar Liga Indonesia 2005 kemaren, PSIS kehilangan peluang jadi juara gara-gara ulah tak sportif Persebaya yang mundur secara abnormal. Apakah Yoyok Sukawi, Bambang Nurdiansyah, Indriyanto Nugroho, dan Emanuelle de Porras menghabiskan seluruh waktu dan energi mereka untuk marah-marah dan mengumpat-umpat tim Bajul Ijo?

Enggak! Mereka cepat kembali lagi ke lapangan unwounded and unharmed, bertarung lagi untuk memenangkan semua pertandingan yang masih mungkin dimenangkan. Dan seperti kita semua tahu, PSIS menggusur PSM 2-0 dalam pertandingan terakhir serta menghabisi PSMS 2-1 dalam playoff perebutan tempat ketiga.

Mereka hanya juara III untuk musim ini, tapi merekalah superhero terbesar yang patut dikenang hingga ratusan tahun ke depan. Merekalah sumber inspirasi tentang sifat-sifat ksatria, keteguhan hati, semangat juang, dan seperti yang kutuang dalam novel ketigaku, The Rain Within, “Hidup baru berharga bila diperjuangkan”.

Dan sejauh yang kupelajari selama ini, marah-marah atau menyesal, entah pada orang atau pada keadaan, sama sekali nggak termasuk dalam definisi perjuangan itu tadi.

So, daripada buang waktu percuma untuk sesuatu yang sama sekali nggak berguna dengan marah-marah atau menyesal punya presiden kayak SBY, aku jauh lebih suka bikin acara balapan dengan harga BBM. Kalo dia bisa naik 80-100%, aku yakin aku juga bisa bikin penduitanku naik dengan persentase yang sama, mungkin lebih.

Dan kegiatan yang ini jauh lebih menyenangkan daripada marah-marah tanpa ujung, because, as usual, eventually I will win again, huahahahaha….!